Jumat, 10 Juli 2009

Alat Musik Tradisional Angklung













Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.





Senin, 06 Juli 2009

Budaya Indonesia - Candi Panataran

Candi Panataran

Candi Panataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Candi Panataran terletak kurang lebih 12 kilometer di sebelah utara kota Blitar. Lebih tepatnya di lereng barat daya Gunung Kelud, berada pada ketinggian 450 meter dpl. Keutuhan Candi Panataran masih terjaga karena berada di dekat kawasan gunung berapi. Ada yang menyebutkan kalau Candi Panataran ini lebih cocok disebut sebagai gugusan candi atau kompleks percandian jika dilihat dari segi bentuk dan susunan fisiknya karena di area ini terdapat sejumlah candi.

Mitos tentang ancaman Gudung Kelud merupakan interaksi dari di bangunnya Candi Panataran ini. Candi yang dibangun sebagai penolak bahaya ini dulunya juga sering di adakan pemujaan oleh seorang Raja Majapahit Hayam Wuruk untuk menghormati Girindra atau Raja Gunung. Nama Candi Panataran terletak di Desa Penataran yang merupakan dasar penamaan candi. Di sebelah selatan terdapat prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Srengga dari Kerajaan Kediri, yang berisi data sebuah peresmian pembangunan sebuah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Palah. Palah atau yang diartikan Penataran berdiri sejak tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi.

Banyak asumsi tentang data Candi Panataran ini. Jika melihat dari ukiran atau pahatan angka dalam huruf Jawa Kuno, terdapat angka 1242 Saka atau 1320 Masehi melahirkan asumsi baru bahwa pada tahun 1320 Masehi bangunan Pala baru diresmikan menjadi kuil negara pada jaman Prabu Jayanegara, Raja Majapahit yang memerintah pada tahun 1309-1328 Masehi. Asumsi lain juga diutarakan oleh Sir Thomas Stamfort Raffles (1781-1826), Letnan Gubernur Jendral Kolonial Inggris yang berkuasa di Nusantara, pada tahun 1815. Bersama dengan Dr. Horsfield, pakar ilmu alam yang sedang menjelajah ke Gunung Kelud yang menemukan asumsi yang dibukukan dalam History of Java menyebutkan bersamaan dengan masuknya Agama Islam dan runtuhnya Kerajaan Majapahit, banyak bangunan suci Hindu dan Budha ditinggalkan begitu saja. Akibatnya, banyak bangunan yang tidak terawat dan tenggelam begitu saja. Karena benjana alam seperti banjir dan tanah longsor banyak candi yang rusak dan terkubur tanah atau tertutup semak belukar. Ada juga bebatuan yang ditumbuk menjadi tanah atau dicuri untuk membangun rumah. Ada pula arca yang dicuri oleh sinder-sinder perkebunan. Tapi Candi Panataran bisa dibilang cukup utuh. Banyak dari bagian candi yang terjaga sehingga kita masih bisa menikmati bangunan dan arsitek yang menawan.












Minggu, 05 Juli 2009

Makanan Tradisional Indonesia (Gado-Gado)














Gado-gado adalah salah satu makanan yang berasal dari Indonesia yang berupa sayur-sayuran yang direbus dan dicampur jadi satu, dengan bumbu atau saus dari kacang tanah yang dihaluskan disertai irisan telur dan di atasnya ditaburkan bawang goreng.

Sedikit emping goreng atau kerupuk (ada juga yang memakai kerupuk udang) juga ditambahkan.
Gado-gado dapat dimakan begitu saja seperti salad dengan bumbu/saus kacang, tapi juga dapat dimakan beserta nasi putih atau terkadang juga disajikan dengan lontong

Bahan-bahan
Sayur-sayuran yang sering digunakan dapat bervariasi, walau sayuran yang biasa digunakan adalah:
•Sayuran hijau yang diiris kecil-kecil seperti selada, kubis, bunga kol, kacang panjang, dan tauge.
•Sayuran lainnya seperti wortel dan mentimun.
•Tomat
•Kentang rebus yang diiris.
•Telur rebus.
Dengan perkecualian telur dan kentang rebus, sayur-sayuran yang digunakan biasanya masih dalam keadaan mentah. Walau terkadang sayuran seperti kubis dan bunga kol bisa juga direbus air panas. Ada juga sayuran yang terkadang dimasak dengan uap air panas.

Saus kacang
Salah satu perbedaan gado-gado dari salad adalah saus kacang yang digunakan. Bahan-bahan yang digunakan untuk saus kacang ini juga dapat bervariasi. Bahan yang biasa digunakan adalah:
•Kacang goreng yang dilumatkan
•Bawang putih
•Cabai, Merica
•Air jeruk nipis

Terkadang juga ditambah:
•Kecap
•Terasi