Jumat, 03 Juli 2009

Budaya Indonesia - Batik Solo







































































Kampung Batik kauman

Selain laweyan kauman juga merupakan sentra industri batik di solo,
Ratusan lembar kain batik berusia di atas 35 tahun dipamerkan di sejumlah

sudut rumah kayu khas Jawa, yang juga sudah uzur.Berbagai peralatan membatik yang usianya tak kalah tua juga ada di rumah itu. Untuk menggambarkan kejayaan industri batik tempo dulu dipajang pula ratusan cap yang menandai produsen batik masa itu.

Gambaran itulah yang dapat ditemui saat mengunjungi Museum Batik Kaoeman. Museum ini terletak di sebuah sudut Kampung Kauman yang menjadi satu sentra batik di Kota Solo. Keberadaannya terasa tepat di tengah perkampungan yang sejak dulu hidup dari industri batik khas Solo.

Bunga matahari, puspita, sedep malem, anggur, dan pisang bali, adalah sebagian dari cap batik yang dipajang di dinding kayu saat Kompas menapak di beranda rumah yang dijadikan museum itu, pekan lalu. Cap batik pernah mewarnai industri batik puluhan tahun lalu.

Memasuki ruang utama, nuansa Jawa tempo dulu sungguh terasa. Lemari kayu berukir yang terlihat klasik menempati beberapa sudut ruang. Lembaran kain batik dalam berbagai motif ditaruh di dalamnya. Kain kuno juga dipamerkan di meja, kayu panjang, dan kayu terikat tali yang digantung di atap. Semuanya diberi label untuk menerangkan setiap motif kain batik itu.

"Museum ini lebih dimaksudkan nguri-uri budaya, yaitu batik Solo. Di sini masyarakat dapat melihat dan mempelajari sejarah batik Kauman khususnya, dan batik Solo serta turunannya," kata pengelola Museum Batik Kaoeman Gunawan Setiawan.

Untuk tujuan pembelajaran itu, koleksi museum juga dilengkapi peralatan yang digunakan untuk membatik. Alat pres batik dari besi yang digunakan tahun 1940-an ada juga di sana. Ini dipakai untuk merapikan batik yang akan dikemas dalam jumlah banyak. Tak kalah unik adalah alat giling batik dari besi masa 1920-an. Sejumlah alat stempel kuno pun dipamerkan.

Alat produksi batik lainnya dapat ditemukan di lantai II bangunan di sebelahnya. Berbagai stempel motif untuk membuat batik cap ada di ruangan itu. Alat pres besar dari masa lalu, tetapi kali ini terbuat dari kayu, berdiri kokoh di dekat dinding.

Di tengah acara berkeliling kampung melihat proses produksi dan berburu batik, kunjungan ke museum ini akan memperkaya
wawasan tentang sejarah batik di Solo, terutama batik Kauman. Apalagi, koleksi di museum ini merupakan milik warga Kampung Kauman yang sejak dahulu membuat batik.

0 Comments: